Monday, September 26, 2005

Disinilah jalan itu ku temukan

Berhari-hari, berminggu bahkan berbulan sudah virus itu telah mengekangku. Menggerogoti jiwa waktu demi waktu. Membuat jiwa kecil ini meronta-ronta. Dan sampailah ia pada puncak perontaannya. Itulah saatnya penentuan besar. Hari Kamis aku memulainya dan hari Kamis pula aku harus mengakhirinya.

Allahu Akbar. Sebuah takbir aku kumandangkan. Bukan sebuah takbir kemenangan bukan pula suatu kekalahan. Tapi ini adalah suatu kalimah yang layak aku dengungkan untuk mengingat kembali kebesaran-Nya. Kalimah yang membuatku kembali berdiri tegak untuk menapaki jalan ini. Menjadi seperti sebelumnya. Tidak, bukan hanya itu tapi harus menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Suatu pengalaman yang baru kudapat telah mengajarkanku supaya tidak terperosok ke lubang yang sama lagi.

Dan akhirnya, aku mengubur virus itu dalam-dalam supaya ia tidak pernah keluar lagi dan bangkit dari lubangnya. Karena aku menganggapnya telah mati. Ia telah tiada. Orang mati ? Kamu tahu khan. Kamu tidak bisa menemaninya begitu pun ia tidak bisa menemanimu. Kamu tidak bisa berbicara dengannya karena ia tidak mengerti dan mendengar yang kau bicarakan. Kamu tidak bisa mengganggunya begitu pun pula ia tidak bisa menganggumu/mengusikmu kembali. Kamu tidak bisa menyentuhnya,menjaganya karena mungkin ia tidak halal kamu sentuh. Dan kamu pun tidak bisa merawatnya secra langsung karena ia tak bisa merawatmu. Meski ia adalah ayahmu, ibumu, saudaramu ataupun orang yang kau cintai dengan sepenuh hati. Karena ia sudah tidak berada dalam dimensi yang sama denganmu. Kamu hanya bisa menyentuhnya, menjaganya dengan alunan doa demi doa yang terlantun ikhlas dari dua bibirmu saat fajar dan senja tiba.

Dan disinilah jalan itu terbentang lagi bagiku. Begitu luas dan lapang, begitu damai dan tentram. Dihiasi pohon yang rindang di kanan kiri sepanjang jalan. Dan disinilah aku kembali menapak untuk tetap berjalan. Disinilah jalan ini kutemukan. Disinilah aku kembali berada