Thursday, July 28, 2005

Run Away = Ngabur

Say it's true, there's nothing like me and you
Not alone, tell me you feel it too
And I would runaway
I would runaway, yeah, yeah
I would runaway
I would runaway with you
.......
.......

Ahh besok adalah hari Jumat mengingatkan saya pada acara Idol RCTI yang sempat saya lihat seminggu sebelumnya. Alunan lagu Run Away nya The Corrs yang dilantunkan oleh Monita, salah satu finalis Indoesian Idol pada Jum’at malam kemaren masih terngiang di kepal saya. Lagu itu mengingatkan saya pada perkataan salah satu teman saya beberapa tahun yang lalu. Seorang cewek non muslim yang hampir menjadi partner praktikum abadi saya selama di kampus. Pasalnya hampir tiga tahun berturut-turut ia berpartner dengan saya. Sehingga kami sering bertukar dialog mulai dari masalah kuliah, masalah umum sampai masalah agama. Dan ini komentarnya pada saya saat itu ...
- Kamu kok suka sih dengan lagu Run Away
+ Ya suka aja dengan musiknya the Corrs ...
- Ihh itu khan jelek. Itu khan ngabur artinya .. Aku nggak suka ...
+ Oh iya ya ...
.....

* * *

Dan akhirnya penampilan Monita yang mirip karakternya dengan salah seorang teman saya sekantor pada Minggu kemarin adalah penampilan terakhirnya di ajang Indonesian Idol. Ia benar-benar run away dan ngabur menyisakan kekecewaan para penggemarnya.

Tapi pernahkah terpikirkan oleh kita, kalau kadang kita mempunyai potensi untuk ngabur ? Ya, ngabur dari segala masalah yang dihadapi. Seringkali pikiran itu muncul saat beban terasa berat menghimpit. Kita tak punya tempat untuk bertukar cerita. Kita tak punya bahu teman di sekeliling kita untuk bersandar. Dan sekalipun kita berusaha curhat kepada Rabb pemilik alam ini, tapi dikarenakan kurangnya percaya kita pada-Nya bahwa di balik kesulitan ada kemudahan, bahwa Allah akan membantu hamba-Nya yang benar-benar meminta pertolongan pada-Nya. Bahwa Allah pasti hanya menimpakan sesuatu yang mampu ditanggung oleh kita, maka yang didapatkan hanya kekosongan jiwa.

Apakah benar kalo ngabur adalah solusi terbaik. Tidak ... sekali-kali tidak. Karena ia akan datang lagi mungkin dengan kawan-kawannya memberi himpitan yang lebih besar lagi. Kita harus hadapi masalah itu sampai tuntas baik tenaga diri sendiri ataupun dengan bantuan orang lain. Dan dari salah satu ucapan yang terkenal akhir-akhir ini kiranya lebih cocok untuk kita : “Jangan pernah jadi penakut karena yang penakut itu adalah cecurut " - "Karena jaman berubah ,...kepercayaan harus di perjuangkan "

Regards dari saya untuk anda yang tak mau jadi cecurut, regards dari saya bagi anda yang selalu berjuang.

Thursday, July 21, 2005

Kadang ini cara Nya

Kadang Allah memberikan sesuatu yang membuat kita merasa menderita karenanya. Tetapi mungkin itulah cara Allah supaya kita mendekat pada-Nya. Selalu merasa membutuhkan-Nya sehingga keadaan kita seakan-akan seperti orang yang yang terombang-ambing sendirian di tengah lautan dan hanya bergantung pada sebilah papan. Maka kepada siapa lagi kita mengharap pertolongan selain pada-Nya saja ?

Mungkin sesuatu yang menyakitkan kita saat ini atau kapan pun adalah suatu isyarat dari-Nya supaya kita lebih baik lagi.
Supaya kita lebih baik lagi dari sebelumnya.

Monday, July 18, 2005

Usaha mulia

Pernah dengar kata usaha khan. Saya yakin kita semua pernah mendengarnya kecuali tertidur saat pelajaran fisika SMP anda. Usaha atau W = F x S, yaitu gaya yang dilakukan sejauh jarak tertentu. Gaya atau F ini bisa berwujud apa saja. Semakin besar gaya dan jarak yang ditempuh maka usaha yang dihasilkannya juga besar. Bayangkan kalo gaya ini adalah cinta, betapa besar usaha yang dihasilkannya. Karena demi cinta, seseorang dapat berbuat apa saja. Bukankah ini luar biasa.

Saya tidak berbicara cinta yang penuh nafsu, cinta yang berlebih-lebihan. Karena walaupun usaha yang dihasilkannya besar namun tidak lebih hanya keluar dari kerongkongan saja tak ada makna yang tersimpan dalam dada. Saya sekarang mau membicarakan kecintaan para sahabat kepada Allah dan Rasul Nya. Kecintaan yang besar dan mulia yang membuahkan suatu usaha yang besar serta mulia pula. Kecintaan yang sanggup meluluhlantakkan kekuatan kaum musyrikin, meluluhlantakkan pengkhianatan kaum Yahudi Bani Quraidzah. Kecintaan yang menyebabkan Allah menjanjikan kemenangan bagi kaum muslimin, bahwa satu orang muslim bisa mengalahkan sampai sepuluh orang musuhnya asalkan ia beriman dan sabar. Suatu usaha yang cukup besar sehingga Islam menguasai sepertiga belahan dunia.

Jadi inilah usaha itu, usaha mulia yang patut diteruskan. Bahwa kita senantiasa berbuat sesuatu untuk memenangkan cinta Allah bukan demi cinta fulan dan fulan. Walaupun usaha yang kita hasilkan tidak sebesar para sahabat dan thabi’in karena kecintaan kita pada Allah dan Rasulullah memang tidak bisa menyamai kecintaan mereka pada Allah dan Rasul Nya sebagai generasi Islam terbaik.

Wirausaha ? Mungkin sudah saatnya

Melihat televise kadang memberikan suatu informasi dan suatu inspirasi. Sama halnya yang saya dapatkan kemarin pada acara Oprah’s Show di Metro TV, salah satu acara yang tidak saya lewatkan kecuali ada kesibukan lain. Kebetulan tema pada acara talkshow adalah bagaimana seorang wanita rumah tangga biasa menjadi seorang miliuner.

Contoh pertama, seorang ibu rumah tangga yang menjadi seorang tukang manikur. Ia mengamati bahwa untuk perawatan manikur dibutuhkan waktu yang lama, suatu hal yang kurang disukai ibu rumah tangga. Maka ia pun menciptakan suatu peralatan/ramuan manikur yang bisa digunakan hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Dan ia pun akhirnya memasarkan manikur buatannya sehingga menjadi pemilik dari suatu perusahaan dengan penghasilan 20 juta dollar US per tahunnya. Satu hal yang membuat saya kagum, bahwa dengan kekayaan yang dimilikinya itu ia tetap hidup sederhana layaknya ibu rumah tangga biasa. Banyaknya uang tidak membuatnya berganti kepribadian seperti kebanyakan orang.

Narasumber kedua adalah seorang guru TK. Ia mengamati bahwa banyak anak-anak kecil yang sering sakit flu karena kebiasaan mainnya. Oleh karenanya ia membuat ramuan herbal dan meracik obat flu yang sangat terkenal di Amerika yaitu Air Bonne. Rumahnya dijadikan sebagai industri rumah tangga untuk membuat obat dalam bentuk tablet yang larut dalam air tersebut. Yang hebat yaitu hanya dengan lima orang karyawan saja ia sanggup mendapat pemasukan sampai 21 juta dollar US setiap tahunnya. Pekerjaan sebagai guru TK masih tetap dijalaninya dan ia tetap hidup sederhana layaknya seorang guru. " Saya hidup biasa saja, keuangan saya kontrol dengan ketat karena kebiasaan saya sebagai seorang guru mengajarkan demikian. Namun saya sekarang tidak memikirkan uang lagi saat mengajar anak-anak, saya lakukan itu karena saya suka anak-anak ", begitu katanya.

Narasumber ketiga seorang ibu rumah tangga yang bahkan lebih hebat lagi yaitu pemilik dari perusahaan bernilai 500 juta dollar US. Ia menjalankan usaha pakaian yang idenya didapatkan saat ibu itu hamil. Ia mengamati bahwa tidak tersedia pakaian dengan model yang cukup bagus untuk ibu-ibu yang sedang hamil. Berawal dari itu ia mengembangkan model pakaian untuk ibu hamil yang tetapmodis dan enak dikenakan oleh ibu hamil saat bekerja. Dua produknya yang terkenal,salah satunya dengan nama " Mimy Maternity " banyak dikenakan dan disukai oleh banyak kalangan dari ibu rumah tangga sampai artis. Karena selain modelnya bagus, harganya juga terjangkau.

Satu hal yang saya dapatkan dari acara tersebut, bahwa semua orang berpeluang untuk menjadi seorang miliuner. Oke, tidak harus miliuner tapi wira usahawan yang berhasil. Asalkan ia gigih, asalkan ia mampu mengambil peluang di depannya, asalkan ia mampu mengambil inspirasi dari sekelilingnya. Bahkan hal yang sederhana sekalipun dapat menjadi sesuatu yang bernilai.

Wednesday, July 13, 2005

Bangkitlah anak muda

Beberapa hari membaca postingan sendiri membuat saya kecewa. Ternyata blog ini telah ternoda, jauh dari tujuan saya sebelumnya. Bahwa saya ingin blog ini berguna dan bermanfaat.

Tapi satu tulisan dari seorg teman yg diambil dari Laa Tahzan-nya Qaidh Al Qarni menyadarkan saya : " Kesempitan jiwa ini harus diakhiri dengan keputusan yang pasti. Manusia itu hidup hanya sekali, hari-hari yang telah dilaluinya tidak akan berulang, jam-jam yang sudah lewat tidak akan kembali lagi. Karenanya, ia harus berusaha menikmati waktu-waktu yang tidak akan kembali itu dan agar waktu-waktu itu menghantarkan kita kepada kebahagiaan dengan cara menetapkan keputusan"

Yah, memang saya harus bangkit dari keterpurukan ini. Bahwa ketika orang muslim itu telah menetapkan keinginannya, membulatkan tekad, dan bertawakal kepada Allah setelah sebelumnya beristikharah dan meminta rekomendasi dari sana-sini, maka ia sebagaimana dikatakan di muka, jika mau maka ia akan meletakkan matanya di antara dua keinginannya, dan mau tahu apa akibat yang mungkin terjadi.Ia melaju bagaikan aliran air, meluncur ke depan bagaikan sabetan pedang, kokoh bagaikan jaringan waktu, dan memancar bagaikan pancaran fajar.

Monday, July 04, 2005

Andai saja

Ada sepenggal cerita di balik jatuhnya saya. Bukan hanya karena pinangan saya ditolak, dan helm balap yang baru saya beli 10 hari sebelumnya ikut-ikutan digondol maling di tempat yang sama. Kehilangan helm itu perkara yang sangat kecil pada malam itu, ada kehilangan yang lebih besar lagi yang saya rasakan. Saya anggap hilangnya helm itu adalah hukuman Allah bagi saya karena terpaksa harus berkhalwat dengan wanita yang bukan mahram saya. Ya gimana lagi, nggak ada perantara sama sekali. Saya pun pernah mengalaminya saat kuliah saat harus mengantarkan seorang wanita teman kuliah saya. Baru 1 km berjalan, sepeda motor yang saya pake bocor. Dan akhirnya saya suruh teman saya berjalan pake transportasi lain. Sedangkan saya harus berjalan menuntun sepeda hampir 2 km untuk menambalkan ban sepeda. Capek ?? Tentu saja

Jatuhnya saya saat malam itu karena sesuatu yang tidak jelas. Hanya alasan karena kuliah dan kerja sekantor yang membuat seorang " dia " menolak saya. Suatu alasan yang tidak bisa terima. Kalo saja ia bilang udah dijodohkan ato punya calon, baru saya mundur. Akan tetapi ada satu katanya yang agak menghibur, bahwa kalau kami berjodoh, pasti Allah akan mempertemukan kami. Wow, kayak sinetron saja pikir saya.

Tapi ada sedikit cerita aneh setelah kejadian itu. Weekend kemarin ia ke Bandung bareng dengan teman-temanku lainnya. Saya pun berniat ke sana untuk membuktikan apakah kami bisa bertemu di sana, walau saya tidak tahu alamatnya, tidak tahu no hpnya (saya dari awal memang tidak tahu hpnya, takut jadi pacaran model baru) dan berangkatnya berbeda waktu. Dan sesampainya di Bandung, kota yang baru saya datangi tiga kali selama hidup saya, saya berusaha mencari sosoknya mulai malam Minggu dengan berkeliling puter-puter Dago, Setia Budi, mall-mall dll tapi belum berhasil walaupun keyakinan ini masih ada.
Minggu pagi saya pergi ke Gasibu untuk jalan-jalan serta olahraga pagi sekalian melihat gedung Sate yang terkenal itu. Ternyata sangat ramai di sana, mungkin sampai seribu orang lebih yang jalan-jalan dan olahraga di sana. Hmm, saya jadi agak pesimis menemukannya di sana. Akhirnya saya putuskan untuk istirahat menikmati tahu sumedang di sana. Dan saat menunggu pesanan tiba, saya menoleh ke kanan.... dan saat itu saya melihat sebuah wajah bercahaya di antara kerumunan orang-orang. Dan itu adalah " dia ". Ia berjalan hanya berjarak 5 meter dari tempat saya duduk, namun ia tidak melihat saya. Saya hanya bisa tertegun dan memandanginya saja sampai lenyap di kelokan jalan. Dalam hati hanya bertanya-tanya what is this .... Sudah dua kali ini saya mengalami perasaan kebetulan seperti ini. Pertama saat ngomong pertama kali ke dia pas hari ultahnya yang juga belum saya ketahui sebelumnya dan yang kedua adalah kejadian kemarin. Bagaimana sesorang yang tanpa tahu alamat, hp dll bisa ketemu di kota yang lumayan besar itu. Ya Rabb, terangkanlah ....

Cukuplah cerita tadi, tetapi membuat saya berpikir gimana ya kalo kita bisa tahu isi hati orang lain. Kita bisa tahu maksud jahat dari seseorang yang berniat jahat ke kita. Kita bisa tahu juga isi hati dari orang yang kita sukai. Apakah jawaban yang keluar dari mulutnya benar-benar polos dan jujur. Tanpa basa-basi dan mengambang. Benar-benar murni keluar dari hati.

Ahh, tentunya sebagi muslim kita tidak boleh berandai-andai karena memanjangkan angan-angan adalah bagian dari jalan syetan. Yang paling baik mungkin berbaik sangka padaNya atas segala yang ada. Masih banyak pekerjaan yang menunggu, dan banyak benang kehidupan yang harus dianyam. Walaupun kemarin saya pernah bilang padanya bahwa ada seorang lelaki senja yang menantinya di ujung cakrawala sebelum matahari terbenam, dan membuat sosoknya hilang ditelan gelapnya malam.

(karena kesabaran memang ada batasnya)