Saturday, April 30, 2005

Selamat Jalan Sobat

“ Konco iku isoh ngalahke sedulur lan keluwarga “ : Teman itu bisa mengalahkan saudara dan keluarga. Begitulah Pakdhe berkata pada saya ketika saya minta ijin tidak bisa ikut acara keluarga besar saya karena harus pergi ke rumah seorang sahabat saya.

Dan, akhirnya perkataan itu terbukti benar. Kehilangan seorang sahabat ibaratnya kehilangan salah seorang anggota keluarga bahkan mungkin lebih kehilangan lagi. Karena sahabat itu terlanjur menjadi teman curhat kita, teman berdiskusi dan bercanda sehingga sangat dekat Suatu kondisi yang mungkin tidak terjadi pada anggota keluarga kita. Saya sendiri sulit mengatakan kondisi saya yang sebenarnya ke keluarga kalau sedang banyak persoalan. Mau bercerita sama Ibu, takut membuat beliau kepikiran. Mau bercerita sama kakak ataupun adik, wah mereka udah pada nikah dan punya anak. Apalagi mereka sudah menjadi milik suaminya masing-masing. Jadi sahabat lah yang menjadi teman uneg-uneg saya.

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat saya yang paling kental, teman sekelas SMA dan teaman sekamar saya di Jakarta telah meninggalkan saya dalam rangka tugas dinas kantornya ke Pekan Baru untuk waktu tak tertentu. Terus terang saya amat kehilangan dia. Karena saya jadi ikut rajin berpetualang mencari kajian-kajian Islam di Jakarta ini gara-gara dia. Saya yang semula tidak senang melancong dan suka berdiam diri di rumah menjadi bersemangat untuk mengaji walaupun tempatnya jauh. Pendek kata ia telah mengingatkan saya secara tidak langsung dengan segala aktivitasnya walaupun memang ia tidak sempurna.

Saya tidak tahu apakah dapat mempunyai sahabat yang lebih baik darinya atau seperti dia. Akan tetapi saya berharap kami dapat bertemu kembali secepatnya. Selamat jalan Sobat, semoga Allah memberkahi setiap langkahmu

Monday, April 11, 2005

Menulis? Nggak Janji deh

Mengikuti pelatihan menulis IMB hari Minggu kemarin paling tidak membuat mata saya sedikit melek dengan istilah kepenulisan. Bisa mengenal apa yang dinamakan straight news, feature news dan kawan-kawannya pula. Kenal rumusan 5W+H pula, apaan pula tuh. Cari sendiri ya biar tertarik

Menariknya saya bersama seorang teman saya merasa sebagai penyusup di tengah-tengah pelatihan yang sebenernya untuk para penulis tersebut, karena pada dasarnya saya bukan penulis yang lagi mandeg … dan mandeg untuk menulis. Mereka para penulis itu mungkin memang dilahirkan dari deretan huruf-huruf dan kata-kata sehingga dengan mudah dapat mengolahnya menjadi seni yang bermutu . Sedangkan saya ? Saya lebih enjoy menjadi seorang engineer, dan mungkin dilahirkan dari deretan angka-angka, garis dan kurva sehingga lebih mudah menjadi seorang penikmat sastra dan seni. Hanya saja saya pingin bisa menulis sebagai usaha balas dendam terhadap ketidakberdayaan saya saat disuruh membuat cerpen, puisi dan resensi novel oleh guru bahasa Indonesia saat saya masih SMA.

Sejak sekolah dulu saya berpikir mungkin pelajaran yang paling sulit itu adalah mengarang, apalagi ditentukan temanya dan dibatasi waktunya. Ngeri deh pokoknya. Para penulis aja kadang-kadang nggak mau dikekang dan dibatasi dalam berkreasi. Dan memang nilai NEM saya yang sering jatuh adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena kurangnya kemampuan saya untuk mengolah kata. Andai bisa mbalik ke kehidupan sekolah lagi tentu bisa membuat sedikit perubahan.

Paling tidak ada manfaat yang saya peroleh dari pelatihan tersebut, yaitu bisa melihat dari jarak dekat para penulis dan insan sastra Indonesia : pak Arul, Jonru, HTR, Pipiet Senja,dll. Ternyata " Penulis juga manusia, banyak ngocol banyak canda. Jangan samakan dengan pisau belati " ( Seurius euuyyy )
Dan sepertinya banyak pula lho yang pasangan hidupnya sama-sama penulis. Ahh, jadi pingin juga punya istri yang seorang penulis .. (husss.. jangan mimpi dong Agung, kamu khan bukan penulis ..). Yah paling tidak bisa mengajari anak saya untuk bisa menulis ( eit berkeluarga dulu dong ..) Iya.. iya… gitu kok sewot sih.

Hidup Penulis Indonesia ...

Tuesday, April 05, 2005

Tujuh hal yang menakjubkan

Pertama, engkau tahu Allah tetapi engkau tidak mencintai-Nya.
Kedua, engkau mendengar seruan Allah tetapi engkau terlambat menyambut seruan-Nya
Ketiga, engkau tahu keuntungan jika bergaul dengan-Nya tetapi justeru engkau bergaul dengan selain-Nya
Keempat, engkau tahu kemarahan-Nya tetapi engkau justeru memancing-mancing murka-Nya.
Kelima, engkau tahu betap sakit azabNya jika menentangNya tetapi engkau tidak minta belas kasihNya dengan menaatiNya
Keenam, engkau merasa sakit hati jika tidak menyebut namaNya tetap engkau justeru tidak mau menyebut namaNya dan tidak bertaubat padaNya. Ketujuh, engkau tahu bahwa engkau sangat membutuhkanNya tetapi engkau justeru berpaling dariNya dan mencintai hal yang menjauhkan dari Nya. ( Ibnu Qoyyim, Al Fawaid )