Monday, March 28, 2005

Sepenggal Cerita tentang Hidup

Minggu kemarin seperti minggu sebelumnya, menjalankan ritual yang sama. Proses yang selalu berulang-ulang, bahkan tidak terasa mungkin telah mengendap dalam otak, menciptakan gerakan-gerakan dalam alam bawah sadar. Kegiatan sama yang dilakukan menjelang akhir pekan tiba, melakukan olahraga rutin untuk tangan yaitu mencuci, mengepel lantai kamar dan menyetrika baju yang telah kering. Tetapi mengisi energi dulu tentunya dengan semangkuk bubur ayam hangat siap saji dari paman penjual depan kontrakan.

Bahkan bacaan pagi yang menemani pun tetap sama, harian Kompas terbitan Sabtu-Minggu. Dan akhirnya dimulailah suatu pencarian dengan memelototi huruf-huruf yang tercetak pada halaman surat kabar terkemuka itu terutama pencarian kata-kata : "Job Vacancy", "Urgently required", "Dibutuhkan Segera" dan kata-kata lainnya yang sejenis. Pencarian ini terus terang sudah saya lakukan sejak lulus kuliah. Mungkin memang saya kurang berbakat kalo berwira usaha sendiri jadinya tetap aja jadi buruh. Tidak lupa membaca tulisan yang terpampang di kolom "Kontak Jodoh", sebagai pengingat dan nasehat diri bahwa usia tak lagi muda dan sudah saatnya berkeluarga. Tapi saya pikir sungguh bodoh sebenarnya melakukan itu semuanya. Tapi mungkin lebih baik daripada melihat berita TV tentang kenaikan BBM dan usulan kenaikan gaji 15 jeti bagi para anggota DPR yang didukung beberapa partai yang saya anggap bersih dan reformis. Lebih baik juga daripada kerja di kantor dan terpaksa hanya bisa melihat dua buah Volvo baru bagi manajer kami. Bukannya iri, cuma kenaikan gaji yang harusnya dari Januari belum ada kabar beritanya sampai kini. Jadi please dong peduli.... (mode menuntut)

Yah, ini mungkin sebuah goresan yang menghiasi hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Jadi apakah anda berani tampil beda...

Saturday, March 26, 2005

Semangat Kadang (kurang) Perlu

Beberapa kali pulang ke kampung saat liburan tiba selalu menyisakan perih di dada. Pasalnya seringkali melihat banyaknya kekeliruan yang dilakukan oleh para takmir masjid utamanya dalam pelaksanaan khutbah Jumat. Bukan karena masalah adzan satu kali-dua kali, tetapi rukun pelaksanaan khutbahnya. Dan kekeliruan itu tidak hanya terjadi satu kali tetapi beberapa kali. Dulu pernah khutbah Jumat hanya satu kali bukan dua kali (tanpa duduk di antara dua khutbah). Kalo mendapat kritik, mereka biasanya langsung melemparkan umpan balik : " Ya sudah kalo begitu ente yang jadi imam dan khotib " Nah, kalo gini khan bikin mabok ! Lebih mabok lagi kalo ada yang bilang : " Kalo masalah Arab gundul-gundulan sih kecil " Membuat saya keder, khan saya belum belajar ilmu nahwu.

Kadang saya sempat berpikir para takmir ini sebenarnya orang-orang yang terlalu bersemangat untuk " tampil " ke depan. Cuma sayangnya kurang ditunjang oleh keilmuan yang bagus malahan kekerasan hati. Kemudian yang menjadi program kerja prioritas adalah bagaimana menjadikan masjid menjadi indah dan megah tanpa memprioritaskan pada pendidikan umat. Jadinya ya berantakan.

Saya nggak tahu kapan keadaan ini akan berakhir, cuma saya sedikit punya harapan bahwa generasi muda yang lahir dari TPA dan TPQ yang ada akan dapat merubahnya suatu saat.

Tuesday, March 08, 2005

Kangen

Halo apa kabar
Kuucap salam pada seorang teman
Dengan berharap sms balasan
Sekali saja ..
Ingin kudengar beritanya kembali
Setela terputus sekian kali
Halo apa kabar ...

Hmm.. Akhirnya selesai juga mengetikkan kata-kata ini pada Layar hp di tanganku. Tentunya dengan sedikit sentuhan seni supaya kata-kata ini bisa termuat seluruhnya dalam satu sms yang hanya terbatas 160 character saja. Akhirnya dengan sekali sentuhan tombol send, aku berharap cemas menunggu terdengarnya suara-suara aneh dari hp ku yang jarang berbunyi sehari-harinya. Dan mungkin karena jarang bunyi itulah, aku masih setia menggunakan Nokia monophonic ini di tengah gencarnya produk polyphonic.

Akhirnya suara khas ringtone Nokia itu terdengar juga. Tidak hanya sekali namun dua kali. Tit ..tit ..tit. Seorang teman yang menjadi dosen PTS di Surabaya menyapaku dengan gaya Suroboyoan-nya," Wah, puitise rek. Sori lama nggak mbalesi email soale lagi sibuk-sibuke. Gimana dengan kemajuanmu (karir,bojo)". Hmm, aku cuma menghela nafas kalau ditanya tentang dua masalah ini, karir dan bojo. Bagiku itu adalah rahasia Tuhan yang tak akan pernah terjawab olehku dan akhirnya membuatku enggan memberi sms balasan.
Sedangkan salah satu teman lainnya malah menelpon dari Tasikmalaya dan membuatku merasa bersalah. Toh aku hanya meminta sekali sms balasan saja. Walaupun akhirnya pembicaraan kami pun bergulir tanpa terasa. Bla ..bla ..bla..

Rasa kangen memang menyenangkan, terlebih lagi kalau kita bisa mengekspresikannya dengan benar. Dan mungkin dapat mengubah peringai seseorang dari seorang yang kalem dan pendiam menjadi lebih mobile dan periang. Kita pun berusaha matian-matian untuk melepas kangen dengan mengorbankan banyak hal.

Setelah melewati hari itu, malamnya membuat saya berpikir, bagaimana dengan perkataan saya bahwa saya rindu pada Rasulullah, sahabat nya serta para ulama yang tsiqoh. Kadang-kadang saya bertanya sudahkah kata-kata itu benar terealisasikan. Sejauh apa usaha saya melepas kangen ini dan apakah kata-kata ini hanya menjadi slogan semata. Hanya Allah Yang Maha Tahu, kepadaNya kami meminta petunjuk.




Note :
kangen juga dengan dunia blog lagi setelah ... yang berat