Dilemma
Setiap dari kita pasti pernah menghadapi dilemma bagaimana memutuskan atau memilih. Bahkan untuk masalah yang sepertinya kecil saja, saya udah merasakan keputusan dilematis.
Ini yang saya alami pada 2 hari libur kemarin saat bersilaturahmi ke sahabat saya di Cilegon. Naik bis jurusan Pulogadung-Merak tentu saja dipenuhi pengamen, apalagi daerah Pulogadung-Cempaka Putih. Saya biasanya ngasih upeti juga kalo ada uang kecil. Akan tetapi ketika mereka berkesan maksa minta, ya saya jadi urung ngasih duit. Dan akhirnya tubuh kecil saya pun kena dorong. Teman sebelah saya yang berusaha mencegah pun kena pukul lengannya. Maklum sama-sama kerempeng !
Dilemma yang kedua, yaitu ada mbak-mbak berkerudung yang menawarkan dagangannya berupa permen asam dan jahe. Saya kebetulan kurang suka walaupun dalam hati kasihan juga sama mbaknya. Gimana ya, khan dalam bis desak-desakan sama lain jenis sedangkan ia mungkin melakukannya demi menyambung hidupnya. Akhirnya setelah menimbang-nimbang saya putuskan nggak beli, tetapi teman sebelah saya membeli. Saya pun menanyai teman saya dan ternyata ia hanya membeli karena kasihan. Karena toh agak kecewa juga setelah mencicipi permen itu; lebih berasa gula dari pada rasa permen.
Dilemma seperti ini mungkin sering ada di hadapan kita dan tak jarang perasaan mengalahkan rasio dan sebaliknya. Cuma saya selalu berharap keputusan saya adalah keputusan terbaik saya.
Ini yang saya alami pada 2 hari libur kemarin saat bersilaturahmi ke sahabat saya di Cilegon. Naik bis jurusan Pulogadung-Merak tentu saja dipenuhi pengamen, apalagi daerah Pulogadung-Cempaka Putih. Saya biasanya ngasih upeti juga kalo ada uang kecil. Akan tetapi ketika mereka berkesan maksa minta, ya saya jadi urung ngasih duit. Dan akhirnya tubuh kecil saya pun kena dorong. Teman sebelah saya yang berusaha mencegah pun kena pukul lengannya. Maklum sama-sama kerempeng !
Dilemma yang kedua, yaitu ada mbak-mbak berkerudung yang menawarkan dagangannya berupa permen asam dan jahe. Saya kebetulan kurang suka walaupun dalam hati kasihan juga sama mbaknya. Gimana ya, khan dalam bis desak-desakan sama lain jenis sedangkan ia mungkin melakukannya demi menyambung hidupnya. Akhirnya setelah menimbang-nimbang saya putuskan nggak beli, tetapi teman sebelah saya membeli. Saya pun menanyai teman saya dan ternyata ia hanya membeli karena kasihan. Karena toh agak kecewa juga setelah mencicipi permen itu; lebih berasa gula dari pada rasa permen.
Dilemma seperti ini mungkin sering ada di hadapan kita dan tak jarang perasaan mengalahkan rasio dan sebaliknya. Cuma saya selalu berharap keputusan saya adalah keputusan terbaik saya.
