Friday, December 31, 2004

Tsunami

Tiada lagi tawa
Habis sudah air mata
Hanya duka yang tersisa
di wajah-wajah mereka

Hanya doa permohonan
dan rintihan pelan kepada Tuhan

Ya Allah ampunilah kami
Terimalah saudara kami di sisi-Mu

Sunday, December 26, 2004

Membalas padanganmu
ibarat menyalakan lilin-lilin duka
yang mengantarkanku
kepada kematian muda

Membalas senyumanmu
ibarat menabur racun
dalam seteguk air minumku
yang segera menggerogoti hatiku

Mendengarkan ceritamu
ibarat menghirup candu
yang membawa kenimatan semu
dalam mimpi-mimpi burukku

Maka apakah kamu tetap mau
bertemu

Wednesday, December 22, 2004

Memulai atau Mengakhiri, Lebih Sulit Mana ?

Lebih sulit mana, memulai atau mengakhiri ? Pertanyaan ini pernah dilontarkan teman saya kepada saya. Dan saya pun menjawab seadanya saja saat itu. Tapi setelah saya pikir lebih panjang lagi, jawaban dari pertanyaan itu tidaklah sesederhana yang saya bayangkan.

Fakta pertama yang saya peroleh yaitu : memulai itu sulit. Seorang bayi manusia ketika dilahirkan tidak bisa langsung berlari. Ada fase-fase tertentu dalam perkembangannya yang dapat menjadikan dia dapat berlari. Ada fase berbaring, menelungkup, merangkak, berdiri dan selanjutnya berlari. Adakalanya bayi ini jatuh dan terluka ketika mencoba untuk berdiri dan berlari. Tetapi mungkin sesekali jatuh ini perlu supaya dapat mengerti bagaimana rasanya sakit kalau jatuh. Dan inilah yang saya maksudkan bahwa memulai itu sulit tetapi untuk selanjutnya mungkin akan lebih mudah. Entah mengapa kalo kita hendak melakukan hal yang baik dan memerangi nafsu dan hasrat kita sepertinya sulit banget. Mau mengaji, mau membentuk kelompok belajar, membentuk klub pecinta alam, mengadakan kegiatan baksos terasa sulit lho saat mau memulainya. Mau membentuk forum silaturahmi remaja Islam sekampung aja terasa susah apalagi yang sekecamatan, se kabupaten dll. Pun ketika kita mulai mencari pasangan hidup, begitu sulit saat memulainya ..... menurutku sih.

Fakta kedua yang saya peroleh yaitu : mengakhiri itu sulit. Saat kita mulai masuk PTN favorit setelah mengalahkan rival-rival di UMPTN terasa mudah. Selanjutnya kita mulai mengalami kesulitan-kesulitan. Adaptasi belajar ala mahasiswa, nilai-nilai UTS dan UAS yang hancur, kegalakan para senior, dan selanjutnya saat mau menuntaskan kuliah dan merampungkan skripsi. Waktu terasa begitu lama banget dan kiamat terasa dekat. Mengakhiri juga terasa pahit bagi yang diputus oleh sang kekasih. Kemarin saya membaca di koran tentang seorang gadis Malasyia yang dibatalkan pernikahannya oleh kekasihnya saat di kursi pengantin hanya lewat sms. Saya bisa membayangkan betapa hancur hati gadis itu saat menerima perlakuan tersebut. Walaupun yang pertama kali mengakhiri hubungan adalah mantan pasangannya akan tetapi ia pun pada akhirnya juga harus mengakhiri jalinan kasih yang telah terbina. Betul nggak sih.

Jadi apa dong kesimpulannya. Lebih berat mana memulai atau mengakhiri ? Pada akhirnya jawaban pertanyaan ini mengambang juga dan semua jawaban kembali terserah kita.

Taaruf dulu ahhhh ... Lho ???????

Tuesday, December 21, 2004

Terima Kasih Ibu

" Bu, nembe menopo. Wonten acara sae lho wonten RCTI " ( Bu, sedang apa. Ada acara bagus lho di RCTI ). Kalimat tadi adalah petikan singkat pesan sms saya ke ibu saya beberapa hari yang lalu. Ya, saya memang berusaha untuk selalu mengontak beliau setiap hari baik via sms atau telpon dan membicarakan hal-hal kecil kayak acara TV, menu makan dll. Pasalnya sejak kematian ayah saya setahun yang lalu praktis tak ada yang menemani beliau. Adik dan kakak saya sudah menikah dan berada di luar kota. Sebenarnya ada yaitu adik sepupu serta keponakan saya dari keluarga ayah dan ibu yang menemani beliau, namun tentunya tidak sama ketika berinteraksi dengan anak sendiri. Dan saya berharap paling nggak beliau tidak kesepian dan masih merasa diperhatikan sebagai seorang Ibu. Sekedar sms : say hello, mungkin amat singkat tapi bisa berarti lebih dan lebih ..

Ibu saya adalah seorang guru SD. Dan masa senjanya ini masih dilalui dengan mengajar dan mengajar. Tentunya untuk mengisi waktu dan membunuh sepi dengan berbagai macam kesibukan. Umur beliau kurang lebih 53 tahun, mmm saya tidak ingat tanggal lahirnya cuman tahun lahirnya saja. Karena beliau bilang tanggal lahir dan surat kelahiran tidak begitu penting pada jaman dahulu, sehingga kalaupun tanggal lahir tercantum di KTP itu belum tentu yang sebenarnya. Tidak pernah ada tradisi perayaan ulang tahun di keluarga saya, kalaupun pernah paling sekali saja waktu masih kanak-kanak.

Ibu yang saya kenal adalah wanita yang sederhana, lembut cs perkasa ( lembut tak selalu berarti versus perkasa). Saya masih ingat saat nenek saya ( ibu ayah) sakit, beliaulah satu-satunya menantu nenek yang mengurus nenek bahkan saat membuang kotoran karena nenek tak berdiri sendiri kecuali dipapah. Saya jadi ingat kemudian saat mata nenek terharu menatap Ibu … Saya masih ingat juga saat bapak masih dirawat karena sakit, beliaulah yang selalu dipanggil bapak terus menerus untuk menemani jadi ibu jarang tidur. Itulah Ibu yang selama ini saya kenal.

Ibu, dua hari lagi tanggal 22 Desember. Pemerintah bilang tanggal itu adalah hari nasional hari Ibu. Tapi bagi saya, setiap hari adalah hari Ibu, karena seorang Ibu tetap tidak pernah libur menjadi seorang Ibu walaupun satu hari saja.

Lagunya mas Iwan Fals sungguh membuat saya kembali terharu mengingat Ibu di kampung :

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....


Ibu, terima kasih. Terima kasih telah menjadi Ibu bagiku. Dan aku yakin tidak perna bisa membalas kebaikanmu. Semoga Allah membalasnya, selalu menjaga Ibu, memberi kesehatan pada Ibu dan memberi kebahagiaan pada Ibu. Ya Allah ampunilah kedua bapakIbuku dan sayangilah mereka seperti saat mereka menyayangi kami ketika masih kecil. Amin.


Wednesday, December 15, 2004

Cinta Itu

Beberapa hari yang lalu banyak blog yang mengulas masalah cinta. Jadinya agak terimbas juga ke saya. Hal itu membuat saya berangan-angan, gimana ya kalo saya ditanya definisi cinta oleh seseorang. Saya paling bengong dan berkata : Cinta ya ??? Karena saya mungkin orang yang paling sering jatuh cinta pada pandangan pertama J . Maksud saya, jika sering liat barang bagus langsung aja jatuh cinta dan pingin memilikinya. Melihat tas bagus, sepatu bagus, baju bagus apalagi kok kebetulan ada seorang akhwat yang anggun dan menawan melintas lewat di hadapan. Bisa-bisa tak berkedip !!!

Mendefinisikan cinta itu kayaknya kok sulit banget. Dan kadang cinta itu tidak logis sama sekali. Coba aja bisa nggak diterangkan kenapa air mata mau tumpah saat melihat Choi Eun Suh (Song Hae Gyo) dan Yoon Jun Suh (Song Seung Hun) mencucurkan air mata di serial Endless Love. Kita pun larut dalam kesedihan mereka dan air mata pun berjatuhan. Huhh kok sentimental banget sih, jadi ketahuan deh kalo suka nonton. Begitu pula melihat ending percintaan Li Mu Bai (Chow Yun Fat) dan Shue Lien (Michelle Yeoh) dalam Crouching Tiger Hidden Dragon. Li Mu Bai pun terbunuh oleh racun saat akan meninggalkan dunia persilatan dan akan hidup menikah dengan Shue Lien. Saya masih ingat dialognya Li Mu Bai kira-kira begini : “Saya sudah lama ingin memegang tangan kasar pendekar golok ini, namun saya tidak berani “. Wah ngingetin saya sama tangan kasar putri Rasulullah Siti Fatimah ra yang bersuamikan Ali ra. Ternyata tidak mengatakan cinta dan memendamnya bisa mengakibatkan penyesalan di akhirnya. Mungkin lebih baik ditolak khitbahnya/lamarannya dari pada tidak mengatakan perasaan sama sekali. Tapi yang paling indah ya diterima tentunya …. He..he.

Cinta itu rumit. Kalo menurut film Brownies cinta itu seperti membuat kue Brownies, kita nyampur adonan and kita gak pernah tahu rasa akhirnya kayak apa. Tapi saya kurang setuju, karena cinta itu bukan seperti eksperimen di laboratorium. Kecuali ada lab percintaan dan ada kelincinya he he . Lebih baik saya bawakan definisi cinta kalo nggak salah dari Ibnu Qoyyim ( kitab Taman-taman Orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu ) : rasa cinta bagaikan sebuah pohon di dalam hati; akarnya berupa kepatuhan kepada yang dicintainya; batangnya adalah ma’rifah kepadanya; cabangnya adalah rasa takut kepadanya; dedaunnya adalah rasa malu terhadapnya; dan buahnya adalah selalu ingat kepadanya. Akhirnya saya simpulkan kita mengenal cinta karena kita punya hati untuk menumbuhkan rasa suka yang memotivasi orang untuk mengerjakan sesuatu. Tapi kalo hatinya membatu saya ya ndak tahu lagi.

So selamat bercinta tapi inget dengan benar sesuai rambu-rambu yang disyariatkan oleh Allah.

Saturday, December 11, 2004

Memperbaiki atau Merusak

Beberapa hari yang lalu saya membaca tafsir QS Al Baqarah : 12 - 13 yang artinya : " Dan bila dikatakan mereka , " Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab : " Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan ". Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak sadar ".

Ikhwan fillah, perbaikan adalah sesuatu yang kita inginkan bersama. Karena perbaikan artinya usaha untuk membuat sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Dan perbaikan yang kita inginkan tidak hanya pada satu bidang saja akan tetapi mencangkup segala aspek kehidupan. Perbaikan di bidang ekonomi artinya usaha untuk meningkatkan sendi perekonomian mungkin seperti dengan membuka lapangan kerja baru untuk menekan laju pengangguran dan memperbaiki taraf hidup masyarakat. Perbaikan di bidang keamanan untuk meningkatkan ketentraman dan memberi rasa aman. Perbaikan di bidang pendidikan adalah bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan harga terjangkau. Dan yang tak kalah pentingnya adalah perbaikan di bidang agama yaitu memperjuangkan Dien ini agar tetap tinggi dengan jalan mempersiapkan kader-kader dakwah yang solid, beraqidah lurus, berpegang teguh pada Quran dan Sunnah Rasulullah serta berjalan di atas manhaj para sahabat.

Ayat di atas sebenarnya memperingatkan kita tentang keadaan dan sifat para kaum munafik. Karena keadaan mereka sungguh membingungkan the Real mukmin , mukmin sejati. Secara lahiriyah mereka tampak beriman, tetapi keberadaan mereka sungguh merugikan kaum muslimin. Di antaranya mereka mendekati kaum kafir, bermanis muka terhadap mereka dan bahkan mengangkat mereka sebagai pimpinan. Padahal Allah telah jelas melarangnya supaya tidak mengangkat kaum kafir sebagai pimpinan. Dan alasan mereka adalah : demi perbaikan, demi HAM , demi persatuan, demi ini dan itu yang sama sekali tidak ada dasarnya. Padahal kalau kita lihat keadaan para negara yang sering menggemborkan HAM, ternyata keadaan kaum muslimin termarjinalkan dan mengalami penderitaan.

Dan sepertinya kondisi seperti banyak kita lihat pada saat ini. Banyaknya para pejabat yang telah membohongi masyarakat dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang sepertinya baik akan tetapi menimbulkan penderitaan bagi masyarakat dalam jangka panjang. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang terselubung telah menutup kesempatan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Begitu banyak orang yang mengatasnamakan agama melakukan perbuatan merusak, membunuh, menebar terror bom dan sebagainya. Pun di kalangan yang mengatasnamakan pemuka umat telah melakukan kebodohan-kebodohan dengan menentang syariat Allah, melakukan perbuatan-perbuatan baru dalam ibadah (bid’ah). Dan alasan dari semuanya ini adalah untuk mengadakan perbaikan bagi umat. Adapun kritikan dari yang halus sampai tajam tak dihiraukan, dan mereka tetap kukuh dalam perbuatannya dengan mengatas namakan perbaikan. Lalu apa bedanya mereka dengan kaum munafik ?

Maka sudahkah kita benar-benar melakukan perbaikan atau malah membuat kerusakan ?

" Ya Rabb, tunjukilah hati kami pada kebenaran dan kepada cahaya Mu, kepada sirathal mustaqim. Jauhkanlah sifat-sifat munafik dari hati kami dan masukkanlah kami kepada golongan orang yang beriman "

Thursday, December 09, 2004

Mata Elang

Mata adalah bagian dari tubuh yang berfungsi sebagai indera penglihatan. Tugasnya menangkap sinyal-sinyal dari luar terus meneruskan ke otak serta mengolahnya menjadi suatu data. Saya sering berkelakar dengan teman berkenaan dengan cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Yaitu mengibaratkan seseorang dengan mata ayam dan mata elang. Bila kami berbeda pandangan maka masing-masing dari kami memposisikan dirinya sebagai bermata elang dan lawan bicara diposisikan sebagai bermata ayam.

Ayam adalah buruan elang, dan sebagaimana hewan buruan maka sudut pandangnya amat terbatas. Dan karena keadannya, maka ia memandang segala sesuatu hanya dari tempatnya berjalan yaitu di atas tanah. Kalaupun ia selamat dari sergapan pemburu, mungkin karena naluri saja untuk menyelamatkan diri.

Elang adalah seekor pemburu dan dikaruniai kecepatan dan kelincahan. Penglihatannya pun super tajam bahkan mungkin melebihi indera manusia. Saat terbang ia dapat menjangkau pandangan yang luas untuk memburu makanannya.

Seseorang yang bermata ayam adalah seseorang yang memandang hidup ini sekedarnya saja. Ia memandang suatu persoalan hanya sepotong-potong saja. Sehingga kadang dalam mengambil keputusan secara sederhana dengan emosional semata. Mungkin juga dengan naluri semata, yang berakibat pada kegagalan. Seseorang yang bermata elang adalah seseorang yang memiliki pandangan luas terhadap segala persoalan yang dihadapi. Informasi yang digali tidak sepotong-sepotong saja melainkan dipelajari satu persatu,disusun menjadi suatu gambar yang utuh sehingga ia dengan tepat mengambil keputusan terbaik. Memang adakalanya hasilnya kurang maksimal akan tetapi toh dari persentase keberhasilannya amat besar.

Jadi apakah anda mau bermata elang atau bermata ayam.

Tuesday, December 07, 2004

Ketika Hati telah Membatu

Judul di atas bukanlah saya maksudkan untuk menerangkan tentang tertutupnya hati manusia dari jalan kebenaran, karena begitu banyaknya dosa yang melekat dan menyebabkan hati terkunci dan mati.

Hanya sedikit banyolan dari teman : " Apakah kamu hanya berniat sebagai kolektor undangan saja. Lihatlah betapa banyak tenda biru yang berdiri di sana dan menyindirmu. Kalo hati telah membatu maka bagaimana bisa ia dapat menyadarinya ". Dan saya cuma bisa tersenyum kecut dan menjawab " Saya ibarat cermin, dan sekarang memantulkannya kepada anda. So, bagaimana dengan anda. Sepertinya hati anda juga membatu " . Dan kamipun tertawa.

Mungkin banyolan inilah yang senantiasa keluar dari mulut kami ketika melewati suatu tenda biru yang didirikan orang yang sedang mengadakan walimah pernikahan atau paling tidak saat menerima undangan walimahan. Tapi apakah hati kami membatu, ndak juga. Usaha tetep ada, cuman belum terlaksana saja ( belum cocok ). Heh, pagi-pagi kok sentimental banget ya Mungkin kebanyakan baca blog lain yang berisi cinta he … he ... Tapi nggak juga ding, wong ada selembar undangan merah jambu di meja.

Kalo gitu saya ngambil judulnya Peter Pan " Mungkin Nanti " . Ya, mungkin nanti
Go Rohmat Go Agung Go Rohmat Go ... Go..

Monday, December 06, 2004

Saya Bangga tapi … …

Beberapa hari yang lalu saya baca surat kabar tentang kemenangan tim Indonesia sebagai juara satu bidang metematika pada lomba sains yang diikuti beberapa negara. Dan beberapa hari lagi, kita juga menjadi tuan rumah olimpiade sains pertama di dunia. Terus terang saya merasa bangga dengan pencapaian tersebut. Ini membuktikan negara ini punya potensi sumber daya manusia yang tak kalah dengan negara lain.

Harusnya dengan kapasitas sumber daya manusia yang brilian tersebut, bangsa ini bisa menjadi negara maju. Potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah paling tidak menjadi modal untuk membangun bangsa ini.

Kenyataannya bangsa ini nggak maju-maju juga. Kepintaran menurut saya bukan sebagai tolok ukur kemajuan bangsa. System pendidikan yang selama ini digunakan sepertinya salah. Karena toh walaupun dengan lulus cum laude atau summa cum laude, seorang sarjana pun sulit untuk berkembang. Sejak masuk SD sampai kuliah, kita dicekoki bahwa kita harus dapat nilai pelajaran yang tinggi nangkring di urutan pertama. Dan hal ini mengabaikan bakat dan minat yang terpendam pada seseorang. Walaupun ada penelusuran bakat pada sekolah-sekolah, tapi kadang dikalahkan oleh kepentingan sekolah itu sendiri. Dulu di SMP di kota saya ada yang dibuat program bagi murid supaya dapat DANEM bagus dan masuk SMA favorit. Mereka digeber dengan pelajaran eksak terus menerus, dan memang DANEM rata-rata mereka tertinggi. Akan tetapi setelah di SMA jelas sekali kemampuan mereka sebenarnya rata-rata saja dan jarang yang berprestasi lagi.

Kemudian paham yang berkembang di masyarakat adalah : Jadilah dokter, jadilah insinyur, jadilah ini dan itu supaya dapat kerjaan di perusahaan yang bagus !! Mental kita telah ditempa sejak dini sebagai mental kuli, mental buruh . Pun di lembaga pendidikan sebangsa Primagama,Neutron dll kadang kita cuma digeber ilmu sesaat supaya dapat lulus UMPTN dan milih jurusan favorit yang nantinya banyak dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan, departemen atau BUMN favorit.

Sebenarnya telah dilakukan upaya dengan menambah kuliah Kewirausahaan akan tetapi kadang ini sebatas teori saja tanpa ada suatu eksperimen yang benar-benar mengaplikasikan pelajaran tersebut. Bahkan beberapa pelatihan kewirausahaan sendiri kadang tidak dapat menghasilkan individu yang mau berwirausaha. Beberapa saat yang lalu saya pernah menyaksikan acara “ Businnes in School “ kalo nggak salah di Metro TV. Acara tersebut saya pandang bagus mengajarkan pada murid SMU untuk berbisnis walaupun sekedar jualan kue-kue dan aneka minuman. Kewirausahaan khan tidak sesempit itu .... Semoga departemen pendidikan memikirkannya demi kebaikan bangsa ini.

Lho, kok saya bicara terus kewirausahaan terus sih. Apa nggak nyadar masih jadi buruh ? He .. he ... Ya, semoga saya cepat membuat usaha sendiri. InsyaAllah

Friday, December 03, 2004

Haruskah

Haruskah nanda berkata jujur padamu Bunda
kalau purnama itu masih enggan datang juga
dan segera menyinari rumah kita
bahkan cahyanya tak terlintas di beranda

Maka ijinkanlah nanda menjadi pelita
yang menerangi hati Bunda