Monday, November 29, 2004

Sudah sekuler kah kita

Kemarin saya berbincang-bincang dengan teman saya tentang film baru Indonesia “ Virgin “. Saya bilang,” Itu filmnya katanya lebih saru lagi dari pada BCG lho. ( saya sendiri belum melihat sih cuman pernah baca tentang film itu beserta dialognya yg vulgar dalam sebuah milis, kayaknya sih juga nggak akan nonton ….. ). Tanggapannya cuman ,” Kalo saya sih pake pendapatnya Garin Nugroho saja ”. Duhai ….. Garin Nugroho itu bukanlah Tuhan, yang dari komentarnya bisa menentukan sesuatu hal itu betul-betul baik atau buruk. Bagaimana mungkin film yang katanya mempertontonkan seorang remaja yang mengambil gambar payudara dengan kamera phone dari balik bajunya di tengah tempat terbuka seperti restoran dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi remaja. Saya hanya bilang yahhh, emang Tuhan menunjukkan dua jalan tergantung kita yang milih jalan baik atau jalan yang buruk. Saya sih secara pribadi tidak membenci mas Garin, karena hasil karyanya cukup bisa saya nikmati. Tapi kalo udah mengusik moral dan nurani saya pun pasti mengecam anda.

Belum habis saya pikirkan itu, Ehh tadi saya baca di Kompas para perempuan NU yang hadir di muktamar NU Boyolali sepakat menolak makanan yang dihidangkan karena berasal dari rumah makan “Wong Solo” yang pemiliknya poligami. Terus terang saya nggak habis pikir, bagaimana mereka bisa menolak makanan yang Insya Allah halal dan thoyib. Mungkin mereka lebih suka makanan Mc Donald ato KFC kali yang lebih internasional sifatnya dan lebih kriuk-kriuk tepungnya. Yang saya sesalkan itu mereka itu menolak poligami yang bahkan dari Mahzab imam besar seperti : Imam Ahmad ibnu Hambal, Imam Syafi’I, Imam Hanafi saja udah disyariatkan. Bahkan mereka menjadikan isu penolakan poligami dimasukkan dalam muktamar NU. Duhai , kenapa anda tidak memasukkan isu penyerangan AS ke Fallujah, penyerangan Israel ke Palestina sebagai salah satu isu sentral. Kalaupun isu penentangan poligami itu hanya sebagai pengalihan isu sentral tentang “ NU yang berpolitik ”, mbok tolong cari pengalihan isu lainnya yang lebih bermanfaat.

Trus gimana dong dengan fasilitas “ forum “ website Islam seperti kotasantri.com,myquran.com yang banyak diserang oleh orang tak bertanggung jawab, dengan mengambil dalil dari sumber islamlib.com. Jangan-jangan kita hanya berkata : “ Itu sih sudah biasa “ Tanpa ada marah dan benci. Dimana rasa ghiroh/cemburu kita ketika agama ini telah dicaci ?

Jika demikian adanya, kita memang benar-bemar telah jadi orang sekuler. Kalupun kita tidak mengakuinya, pola pikir kita telah menjadi sekuler dan benar-benar menjadi orang sekuler. Ahhhh sekuler ……

Friday, November 26, 2004

Sajak awal Syawal

Tahukah Kamu


Tahukah kamu
matahari hanya terlihat indah dari tempatmu
Bahkan ketika ia membenamkan dirinya
di waktu senja beberapa hari yang lalu
saat aku bertandang ke rumahmu

Tahukah kamu
bahwa aku kadang berpikir
kamu adalah matahari senja
yang pancarkan keanggunan
atau mungkin juga rembulan
yang pancarkan kelembutan
namun sulit kugapai di ketinggian

Hingga pada saatnya nanti
aku juga berharap kamu akan tahu
bahwa aku .....
dirimu .....
kita .....



Ketika Hujan Tiba

Dinginnya udara sore ini
tetap membuat mereka berseri
karena sahabat dekat telah kembali
menghidupkan bumi yang mati

Lihatlah wahai para petani
air hujan telah membasahi
sawahmu yang kering
berpuluh-puluh hari

Dan aku pun dapat pastikan
para kodok kan membuat pesta nanti malam
mereka saling berpasangan
kumandangkan nyanyian perkawinan


Klaten, 20 November ‘04

Tuesday, November 23, 2004

Innamal Mukminuuna Ikhwatun

" Innamal mukminuuna ikhwatun " Setiap mukmin itu saling bersaudara. Dan memang begitulah adanya dan saya meyakininya. Sehingga saya pun tidak berkeberatan ikut kajian dan kegiatan lainnya yang diadakan dari berbagai macam organisasi sosial yang ada di Indonesia ; Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah, Ikhwanul muslimin dan lain-lain. Saya pun tidak berkeberatan ikut kajian dari jamaah yang non partai seperti yg dinamakan jamaah “ salafi “ atao yang pro partai seperti PKS dan partai Islam lainnya.

Tapi siapa sebenarnya yang patut dibuat saudara ? Tentunya bagi saya milih yang aqidahnya benar, berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Karena Islam itu tinggi dan tidak akan tegak ketika bergabung di dalamnya campuran jamaah yang ahlul bid’ah dengan yang ahlus sunnah, campuran antara jamaah yang aqidahnya sesat dengan yang aqidahnya lurus. Bukankah seseorang itu dapat dinilai hanya dengan melihat dan mengamati temannya. Karena itu pula maaf saya tidak bisa bergabung dengan jamaah LDII dan majelis pesantren Az Zaitun ( ditengarai sebagai NII/KW IX), yang dulunya pernah di larang MUI. Juga maaf saya tidak sejalan dengan mereka yang ikut jamaah Syiah, Ahmadiyah yang mengangkat nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, juga mereka dari kalangan Jaringan Islam Liberal yang kadang suka mendiskreditkan Islam.

Kalaupun saya terpaksa menganggap mereka sebagai saudara, mungkin inilah nasehat keras dari saya sebagai seorang saudara : Tolong dong kembali ke jalan yang benar, ke jalan cahaya, ke shirathal mustaqim.

Tapi saya juga heran, kadang ada beberapa saudara saya yang sama-sama diakui MUI tidak menyimpang malah saling sikut, saling memusuhi. Begitu pula yang ikut partai memusuhi jamaah yang non partai. Sampai beberapa bulan yang lalu seorang teman dari sahabat saya tidak diterima bekerja sebagai guru di suatu lembaga pendidikan Islam yang terkenal di daerah Depok kecuali dengan syarat sebagai anggota partai tertentu. Kecewa ?? Tentu saja saya kecewa, dan dari yang bersimpati jadi tidak bersimpati sama sekali.

Tolong dong ikhwah saudaraku, perbedaan furuiyah dalam ibadah mahdhoh seperti sholat saja tidak apa-apa apalagi untuk urusan ini. Marilah bersikap lebih arif. Akhirnya saya bawakan QS Al Maidah: 8 : “ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa .... ”

Maka pada hari yang Fitri ini marilah kita bersatu, merapatkan barisan untuk membuat Islam ini tegak dan tinggi di bumi Allah.

“ Taqoballahu minna wa minkum shiyamana , qiroatana , sujudana waj ‘alna minal muttaqiin wa ballighna ila romadlona ghodin fii shihatin wa khoiron. Selamat Idul Fitri 1425 H, Mohon maaf lahir batin “

Klaten, 19 November 2004

Wednesday, November 10, 2004

Shubuh Yang Indah bersama Rasulullah

Tulisan dari KH. Jalaludin Rahmat


Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang. Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang dikau. "Assalamu 'alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh," kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari Madinah berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, "Adakah air pada kalian?" Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain> sibuk memeriksa kantong mereka, "Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah."

Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu . Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku. Kudengar suaramu yang indah, "Bawakan padaku wadah yang masih basah." Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudhu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah.

Kulihat Abdullah bin Mas'ud pun mereguk sepuas-puasnya. Qad qamatish shalah, qad qamatish shalah.... Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anam. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku. Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu. Kudengar kau berkata, "Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya ?" Kami jawab serempak, "Malaikat, ya Rasulallah."
"Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka ?" jawabmu. "Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah."
"Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?"
"Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah."
"Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian ? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman ? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. " Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Kulihat wajahmu yang bersinar, Kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu ? Siapa yang kaupuji itu, ya Rasulallah ? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak,
"Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku." Kami terkejut. "Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga ?"
Kau menjawab, "Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka...(QS. Al-Baqarah; 3)" Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata, "Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya
bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku." Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah.... Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, "Barangsiapa yang datang kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat." Ya wajihan 'indallah, isyfa'lana 'indallah. Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah...

………..
………………….

Ikatan Ikhwan adalah Ikatan Aqidah pada golongan manusia yang beriman kepada Allah dan Rosulnya, kami terikat oleh sebuah ikatan yang suci dan luhur yakni ikatan akidah. Bagi kami ikatan ini jauh lebih suci dari ikatan darah dan tanah air. Mereka adalah kaum yang paling dekat dengan kami, yang setiap saat kami rindukan dan karenanya kami bekerja dan berjuang membela mereka dengan darah dan harta, dibelahan bumi manapun mereka berada dan dari keturunan apapun mereka berasal. (Hasan Al-Banna)

Tuesday, November 09, 2004

Suatu hari di Lab School

Seorang ibu tiba-tiba bertanya pada saya yang lagi bengong sendirian, “ Dhik, dhik. Kamu kelas berapa ? “ Glodhakkkk !!! :’( Wajah saya jadi memerah ( wajar donk, udah lulus kuliah ama kerja ) kok dikirain masih anak SMA, tapi buru-buru njawab “ Saya bukan murid sini kok Bu, cuma lagi nunggu temen saja ”. Ya, saat itu saya memang lagi menunggu teman untuk ikut kajian tafsir Ibnu Katsir di masjid SMA Lab School Rawamangun. Karena sampai batas waktu yang ditentukan kok belum muncul, maka terpaksa nunggu di halaman luar yang kebetulan banyak didatangi para ibu yang bermaksud menjemput anaknya dari pesantren kilat. Namun setelah dipikir-dipikir, saya bersyukur juga dikaruniai Allah wajah awet muda ….hiiiiii.... tapi kok anak SMA lho ....

Setelah menunggu bebrapa lama, akhirnya teman saya muncul tapi ngabarin kajian batal karena ustadznya lagi ada udzur. Karena malas pulang kami memutuskan untuk berbuka puasa bersama di sana (mumpung gratis … he..he..) dan melanjutkannya hingga sholat Tarawih. Alhamdulillah di sana saya menemukan suasana Romadhon kayak di kampung. Kultum bakda Isya dilanjutkan sholat tarawih empat rakaat –empat rakaat yang panjang dan diakhiri tiga rakaat witir. Imamnya kebetulan masih muda dan hafalannya banyak banget membuat saya ngiri abis. Alhasil kaki pun terasa pegal karena nggak terbiasa. Akan tetapi yang membuat hati saya begitu tersentak yaitu saat imam membacakan doa qunut nazilah pada rekaat terakhir sholat witir dan mendoakan para kaum muslimin yang ada di Palestina, Irak dan di seluruh belahan dunia. Dan sesuatu pun bergolak dalam dada. Perlahan potongan-potongan gambar silih berganti muncul di pikiran ; gambaran anak yang membawa batu-batu dan ketapel dan melemparkannya ke serdadu Israel, anak-anak kecil yang terluka dan buntung lengannya serta bayangan perjuangan rakyat Palestina untuk memerdekan Al Aqsho dari belenggu Zionis. Juga penderitaan rakyat Irak yang dibombardir teroris besar AS setelah sebelumnya diembargo bertahun-tahun lamanya. Kapan ya mereka bisa hidup dengan damai ...

Ya Allah tolonglah kami dan kaum muslimin di palestina, di Irak dan di belahan bumimu
Ya Allah berilah kekuatan pada kaum muslimin untuk menghancurkan kaum kafirin
Ya Allah tolonglah kaum muslimin
Ya Allah tolonglah kaum muslimin
Ya Allah tolonglah kami ….





(habis divonis dokter utk istirahat beberapa hari)