Friday, October 29, 2004

Ada apa denganku

" Saya itu inginnya jatah cuti massal itu pas 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan jadi bisa itikaf ". Itu adalah sepenggal perkataan dari salah seorang karyawan lapangan di perusahaan saya bekerja. Terus terang saya amat kagum pada beliau. Di saat orang seperti saya sibuk mikirin tiket pulang kampung untuk berlebaran di rumah, beliau jauh berpikir ke depan untuk sesuatu yang amat mulia. Yah memang saya pikir itu adalah keinginan yang sulit terlaksana kecuali kami bekerja sendiri punya usaha sendiri tanpa di bawah bayang-bayang seorang Boss.

Tapi setelah menengok sekilas 15 hari Ramadhan yang telah lewat,saya merasa banyak sesuatu yang hilang. Entah tadarus yang kurang teratur ataupun kurang optimalnya saya dalam mengatur waktu telah mengakibatkan waktu saya telah hilang dan tak kan pernah kembali.... Suasana Ramadhan yang saya rasakan saat masih remaja ( SMP-SMU) di kampung dengan sekarang amat jauh berbeda. Mungkinkah karena faktor usia dan pekerjaan yang lebih banyak menyita waktu dan pikiran daripada usia remaja.... Atau karena begitu modernnya kota Jakarta ini hingga bisa mengakibatkan hilangnya sisi kemanusiaan dan berubahnya pola hidup sseorang. Huhh.*#@!.... Kayaknya para lembaga peneliti perlu mengadakan survey tentang masalah ini. Please ya para surveyor .....

Ya Allah, kembalikanlah kami ke jalan-Mu
dan kembali ke fithrah kami yang sesungguhnya
untuk menyembahMu dengan segenap jiwa, raga dan hati kami
Berikanlah kecintaan pada kami untuk mencintaiMu, mencintai RasulMu, mencintai orang yang Kau cintai
Berikanlah keridhaanMu dan rahmatMu kepada kami
Amin


PS : maaf bagi teman2 yg belum saya bales imelnya, soalnya lagi agak sibuk

Wednesday, October 27, 2004

Budaya-ku, budaya-mu atau budaya-kita

Sebagai seorang sarjana teknik kimia kayaknya nggak pantas berbicara masalah budaya, lha wong saya bukan anak sastra, anak sejarah atao anak jurusan budaya yang gape masalah budaya …. eh ada nggak sih jurusan budaya ?. Tapi gak papalah, toh kalo salah saya siap dicomment.

Pertama saya kenalkan dengan asal muasal budaya sendiri. Budaya itu berasal dari kebiasaan yang telah mengakar dan menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi suatu tradisi,kemudian berkembang menjadi adat istiadat dan akan melahirkan budaya. Bahkan budaya tertentu pun lambat laun dapat berkembang menjadi suatu agama. Budaya belum tentu bagus, walaupun kata budaya sendiri dimaksudkan untuk hal-hal yang positip. Istilah budaya nongkrong, budaya merokok, budaya madat dll di kalangan generasi muda sering kita dengar untuk menunjukkan “budaya” atau perilaku negatip di kalangan generasi muda. Sedikit kritikan juga bagi orang tua dan calon ortu yang punya kebiasaan menakuti pada anaknya agar tidak rewel seperti ucapan “Jangan nangis, nanti digondol kuntilanan”. Secara reflek generasi berikutnya akan mengikuti hal yang sama dan jadilah ia sebagai suatu budaya. Makanya hati-hati kalo memelihara satu kebiasaan.

Kembali ke alur utama. Satu hal yang sering saya temui dan kurang saya sukai adalah budaya jam karet. Kenapa ? Karena karet itu benda yang bisa melar serta molor dan itu ditujukan sebagai sindiran kepada pribadi-pribadi yang tidak tepat waktu. Celakanya budaya ini dikenal sebagai budaya bangsa ini. Kalo Cina dulu dikenal punya budaya suap, sekarang kita dikenal punya budaya jam karet, korupsi dll. Sebaliknya budaya luhur yang kita miliki seperti budaya sopan santun, gotong royong malah hilang ditelan jaman. Lihatlah klakson-klakson mobil yang memekikkan telinga saat lampu merah menyala hijau. Lihatlah pula di Zebra Cross,banyak mobil berlalu dengan kencang tidak mengindahkan para calon penyebrang jalan yang mungkin kepanasan waktu siang atau basah saat kehujanan. Apakah ini yang kita harapkan ?

Sekarang tinggal terserah kita, budaya mana yang kita pilih. Dan itulah yang akan menunjukkan pribadi kita. Selamat berbudaya

Tuesday, October 26, 2004

Yok BerBuka

Puasa itu identik dengan tidak makan dan minum mulai dari fajar sampai terbenamnya matahari dan meninggalkan pembatalnya. Dan tentu saja dengan cuaca yang panas saat siang hari datang, kita pingin suatu menu buka puasa yang menyegarkan. Boleh jadi seperti kolak, es atau jus adalah menu wajib yang biasa tersedia di rumah-rumah kita. Karena menu tersebut terbukti benar-benar menyegarkan.

Es “be-ye” dan Jus “ Kalla” , suatu nama yang sering diulas dan disebut dalam berita sore menjelang berbuka puasa adalah nama keren dari pimpinan kita saat ini yang berhasil memenangkan suatu pertandingan bernama Pemilu beberapa bulan yang lalu. Tentunya kita berharap mereka benar-benar menjadi es dan jus yang menyegarkan seperti saat berbuka. Kita juga menginginkan agar mereka membawa bangsa yang telah terpuruk ini menjadi bangkit kembali seperti bangkitnya tenaga kita dari berbuka setelah berpuasa seharian. Dengan tidak mementingkan partainya sendiri bahkan dituduh melupakan partainya, nampaknya Es-Be-Ye berusaha untuk meninggalkan kesan kepartaian dan golongan serta berusaha mementingkan koalisi kerakyatan yang ia canangkan. Yah semoga dengan kabinet yang Bapak pimpin sekarang membuka cakrawala baru bagi bangsa ini.

Selamat Pak SBY dan Pak Kalla jadi pimpinan kami yang baru ………. ( maaf terlambat, soale saya kemarin mendukung Pak Amien dan Pak Sis )

Thursday, October 21, 2004

SALAH KAPRAH

“ Tolong ya, saya nggak bisa ngikutin acara kajian itu. Kondisi iman saya sekarang lagi turun nih. Bener khan kalo iman bisa naik dan turun. “ Pernahkan anda mendengar kata tersebut atau setidaknya kata yang bernada sama dari teman anda. Saya pernah dan terus terang saya sangat kecewa. Begitu mudahnya suatu dalil digunakan sebagai alasan untuk menutupi kepentingan pribadi. Bahkan sebagai suatu pembenaran atas suatu kekhilafan yang kita lakukan. Kalo iman lagi turun ya harusnya dinaikkan lagi entah dengan cara mengkaji ayat Qur’an, bersilaturahmi dengan para alim ulama atau hal lain yang berguna untuk meningkatkan kualitas iman kita. Menggunakan dalil tersebut sebagai penutup kekurangan diri kita kayaknya kurang tepat.

Satu lagi contoh yang nyata yaitu alasan orang yang meninggalkan sholat, “ Laa ikraaha fiddiin “ ( tidak ada paksaan dalam agama ). Kalo ini nih kesalahan penerapan dalil yang amat fatal. Kalo sudah menyatakan masuk Islam khan harusnya melaksanakan peraturan dan kewajiban dalam Islam yang salah satunya sholat. Saya tidak bisa membayangkan kalo khalifah Umar bin Khattab ada di hadapan orang tersebut saat itu, bisa-bisa kepala terpenggal ! Toh khalifah Abu Bakar yang berkarakter lembut juga memerangi orang yang tidak mau membayar zakat karena zakat adalah bagian kewajiban dari seorang muslim.

Logikanya kalau kita akan masuk sekolah maka harus menjalankan peraturan dalam sekolah itu. Kalo tidak ya tentunya dapat hukuman. Tiap pagi kita memakai seragam putih abu-abu ke sekolah SMA, kalo memakai pakaian pesta ata pakaian pantai ya pasti ditegur . Kalo masih terus melakukannya ya dihukum. Kalo masih kebal juga ya terpaksa dikeluarkan. Ini adalah suatu resiko tertinggi tidak menjalankan peraturan di sekolah. Gimana ya kalo tidak menjalankan perintah dan peraturan dalam agama ?

Tolong dijawab sendiri ...

Tuesday, October 12, 2004

Marhaban Yaa Ramadhan

Setiap orang pasti pernah mengalami rasa kecewa dan sedih. Bahkan mungkin kesedihan dan kekecewaan itu berkali-kali hadir dalam hidupnya walaupun berbeda tingkatannya. Alkisah ada seorang ibu rumah tangga baru yang akan dikunjungi ibu mertuanya yang terkenal sewot pada dua pekan yang akan datang. Kebetulan ibu ini belum mahir memasak,maka ia bertekad saat datang nanti ia akan mempersembahkan masakan yang terenak dan terbagus. Maka dua minggu sebelum kedatangan, ibu muda ini kursus belajar masak dengan giat dan mengadakan eksperimen secara terus menerus. Akhirnya sebelum hari H ia merasa sudah siap dan dinyatakan lulus oleh pembimbing kursusnya. Pada waktu hari H, ibu ini benar-benar mempraktekkan segala kemampuan masaknya dengan harapan dapat mengambil hati ibu mertuanya. Kue-kue dan masakan yang dihasilkan benar-benar indah dipandang dan untuk selanjutnya di tata di meja makan karena acara makan masih beberapa saat lagi. Tapi si Ibu ini membikin satu kekeliruan yaitu tidak menutupi makanan dengan tudung saji dan membiarkan seekor kucing masuk runag makan. Dan terjadilah hal yang tidak diinginkan, kucing itu mengambil makanan dari atas meja dan mengacaukan segala tatanan makanan yang ada. Si Ibu ini pun merasa sedih dan kecewa tiada terhingga. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan perhatian Ibu mertuanya. Bukan perhatian yang didapat malah sedikit kesewotan dari ibu mertua.

Beberapa hari lagi kita akan kedatangan tamu agung yaitu bulan Ramadhan, yaitu bulan yang pernuh berkah, rahmat dan ampunan. Dan sebagaiman lazimnya sejak awal kita puasa menahan lapar dan haus selama sebulan, kita sholat malam terus-terusan dan berinfaq secara rutin dengan harapan mengharapkan Ridha Allah. Akan tetapi semua perbuatan itu bisa menjadi sia-sia. Hal ini dikarenakan kita membiarkan beberapa perbuatan yang dapat merusak puasa dan amalan lainnya. Sehari-hari kita isi dengan ghibah ( menggunjing dan gossip), ngabuburit bersama lain jenis saat menanti buka bersama ataupun jalan bersama setelah Subuh berjamaah. Akan lebih baik bagi kita jika bisa mengisinya dengan kegiatan lain seperti tilawah dan pengajian-pengajian supaya kita tidak mengalami kekecewaan seperti si Ibu tadi. Bukan pahala dan ridha Allah yang kita dapat, akan tetapi perbuatan kita selama sebulan menjadi kosong tanpa ada hasilnya. Akhirnya ….

Marhaban Yaa Ramadhan Mubarak

Friday, October 08, 2004

Kisah Seekor Laba-Laba

Hore
Aku menang
Aku berpesta
Aku kaya

Teriak seekor laba-laba
Di suatu sudut kecil ruangan
Melihat puluhan laron tergeletak tanpa daya
Pada jalinan tali tipis perkasa

Inilah buah kesabaran
Ia melompat dan berayun
Membungkus kado dari Tuhan
Ia takkan lapar sampai purnama depan

Sambil berlalu ia berkata padaku
Aku tidak perlu antri lagi sepertimu



Djakarta (saat antri makan nasi gudeg)






Monday, October 04, 2004

Jaman Materialis

Pernahkah kita berpikir tentang jaman ini yaitu jaman dimana kita mampir untuk sekedar “ngombe” (minum) ini adalah jaman materialis. Adalah jaman dimana kita disibukkan dan ditenggelamkan dalam mengumpulkan harta kekayaan. Juga masa dimana kita berlari mengejar penampilan kosong. Modernisasi telah menjadikan kita bersikap materialis dan individualis. Dan saat ini kebanyakan dari kita tak ubahnya menjadi robot seperti mesin yang melakukan pekerjaan ritual. Pagi hari kita bangun, kemudian mandi dan berangkat ke kantor untuk melakukan hal yang itu-itu juga. Sore hari kita pun pulang ke rumah kembali. Kegiatan itu selalu berulang-ulang dan tiap hari kita lakukan. Dan tanpa kita sadari kita telah menjadi robot massal yang digerakkan oleh sejumlah pemegang kebijakan.

Akibat dan dampaknya yaitu banyak dari kita telah kehilangan sisi kemanusiaan. Senyuman kita tak seindah lagi senyuman bayi yang polos, namun hanya sebagai riasan muka semu. Tawa kita tak lagi spontan seperti teriak dan canda anak-anak yang sedang bermain, tapi tawa yang telah diatur untuk memoles kepribadian yang palsu. Bahkan tangis kita bukan lagi sebagai rintihan jiwa tapi sekedar topeng yang menutupi wajah dan penampilan kita yang sesungguhnya yang penuh keborokan.

Kita begitu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, sampai tidak ingat bahwa kita masih punya keluarga entah bapak ibu di kampung, istri ataupun anak yang ada di rumah bagi yang berkeluarga. Kita telah kehilangan kasih sayang, toleransi serta kehilangan rasa terima kasih pada orang-orang yang telah berbuat bagi kita. Dan sebagai gantinya kita telah mengembangkan sikap egois. Bahkan kita tak segan-segan mengorbankan orang lain dan menggunakan segala cara untuk mendapatkan materi yang kita inginkan.
Mungkin sudah saatnya kita untuk berpikir kembali merenungi hidup ini. Bagaimanapun panjangnya malam akan berakhir dengan terbitnya natahari pada pagi hari. Bagaimanapun panjangnya usia serta ketahanan tubuh kita akan berakhir juga. Masa muda kita tentu tidak akan lama lagi akan berakhir. Dan sudah saatnya sekarang memilih jalan apa yang akan kita tuju.

Jakarta, 2 Oktober 2004
( habis ndengerin Dakta FM )