Thursday, September 30, 2004

Kita pun Bisa

Apakah anda pernah mendengar nama Matsushita. Sebuah nama grup perusahaan raksasa kelas dunia. Konosuke Matushita, adalah pendiri dan pemimpinnya. Selain dirinya adalah seorang entrepreneur dan pendidik ternyata ia juga seorang filsuf yang sangat populer. Ia telah menulis sebanyak 46 judul buku, mulai tahun 1953 hingga 1990. Diakhir hayatnya, ia menyumbang 291 juta USD dari saku dan 99 juta USD dari kas perusahaannya untuk kepentingan kemanusiaan. Beberapa tokoh besar dunia pun melakukan hal yang tidak jauh berbeda berupaya menggunakan kelebihan harta dan kedudukan yang dipunyainya untuk kepentingan kemanusiaan.

Mungkin banyak dari kita yang berpendapat, “ Oh, itu karena mereka kaya dan profesi mereka memungkinkan membantu banyak orang”. Dulu saya pun pernah berpikir demikian. Saya pikir dokter dan guru itu juga sangat berjasa dan membantu orang lain karena profesi mereka. Akan tetapi ada satu hal yang menyadarkan saya. Beberapa waktu yang lalu saya sempat menghadiri acara temu bersama Golagong di toko buku Gunung Agung Kwitang bersama teman saya. Apakah anda tahu siapa Golagong itu ? Ia adalah seorang seniman yang cacat lengannya dan kemudian sekarang bekerja sebagai script writer di RCTI. Ia telah mempelopori berdirinya “ Rumah Dunia “, suatu rumah persinggahan yang bertujuan untuk memberi pendidikan secara cuma-cuma pada anak-anak yang tidak mampu. Ia mengumpulkan para volunteer( sukarelawan) untuk membina di yayasan tersebut walaupun pada awalnya banyak menghadapi tantangan, sehingga “Rumah Dunia” menjadi besar dan kabarnya kisahnya dibuat sinetron dengan judul yang sama”Rumah Dunia”.

Ternyata untuk membantu orang lain dan bermanfaat bagi sesama tidak perlu menjadi seorang dokter atau seorang guru. Juga tidak musti kaya harta. Kita hanya perlu modal yang ada pada diri kita yaitu , suatu tekad dan kemauan yang kuat untuk saling berbagi dengan sesama. Kekayaan yang kita perlukan adalah kekayaan hati. Jadi seperti yang sering dibilang Aa Gym 3 M : Mulailah dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini !!! Sekarang hanya satu kata yang harus ada pada diri kita,“Kita pun Bisa “

Monday, September 27, 2004

The Wonderful Baby

Finally, I’m back. Kesibukan beberapa hari ini begitu menyita waktu, musti nyelesaikan beberapa tender,musti nyelesaikan ini itu. Mau gimana lagi it’s my job, akan tetapi Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Tapi kemarin nyut-nyut juga kerja berhari-hari hasilnya “ tidak berhasil mendapatkan tender project”. Gedubrak..!! Agak dongkol juga sih, tapi mungkin ada hikmahnya.
Kemudian waktu weekend kemarin dapat sms dari mantan teman satu kos yang pertama, seorang atlit dari IKIP Jakarta. “Maen dong”, katanya. Akhirnya hari Ahad pagi, saya datang karena kebetulan kajian ahad pagi yang mau saya datangi batal dilaksanakan. Motivasi yang lain yang mendorong saya, karena terpetik berita teman saya udah menikah dan he has got a baby boy. Wow.. Sungguh mengejutkan, karena di kos yang pertama teman saya agak nakal semua, walaupun demikian silaturahmi masih terjaga karena kita setahun pernah bersama.
Ada penampilan lain ketika saya bertemu dengannya, ia menjadi lebih dewasa baik dari perkataan serta sikapnya. Ia masih muda. Umurnya baru 21 tahun demikian pula istrinya. Keduanya sama-sama masih kuliah. Mereka memutuskan menikah karena menghindari dosa berpacaran. Kemudian ia cerita juga tentang persalinan istrinya sampai operasi Caesar, karena bayinya sungsang ketika sudah sampai pembukaan delapan. Nah yang ini ilmu baru bagi saya, mengingatkan pada saya akan beratnya jadi seorang Ibu, memang seperti seorang mujahid. Ada satu katanya yang saya ingat.” Saya sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Kalo mau melakukan ini itu, jadi ingat anak “ This is wonderful.
Seorang bayi memang benar-benar ajaib, dengan kepolosannya dan fitrahnya yang suci ia dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang yang notabene orang tuanya dari seorang anak yang biasa saja menjadi seorang yang lebih arif dalam menyikapi hidup. Saya menyaksikan keajaiban bayi ini pula ketika bertandang ke teman kos saya lainnya.. Beliau yang sering saya panggil dengan Aa’ baru menikah pada usia 38 tahun, usia yang sangat senja untuk menikah. Kebetulan beliau juga baru punya bayi berusia 4 bulan. Ternyata bayi ini bisa mengubah beliau menjadi seperti kekanak-kanakan ketika sedang mencandai si bayi ini. Mungkin anda juga sering melakukannya tanpa sadar pada ponakan anda. Bagaimana dengan saya, .. itu masih jauh dari angan-angan saya. Dan akhirnya dari jauh terdengar lamat-lamat nasyid dari Suara Persaudaraan .....

Apabila telah tiba masaku
Untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan Allah berikan
Insya Allah janjiku segera kutunaikan

Tapi bila kuraba dalam hati
Kadang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada kendalikan diri

Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya

Akhirnya aku segera tersadar
Hanya pada Allah-lah tempat aku bersandar
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insya Allah azzamku akan terwujud lancar

Jakarta, 27 September 2004

Tuesday, September 21, 2004

Ditutup Boleh Dibuka Jangan

Kalo susunan kata di atas adalah judul film, tentu yang terbayang di kepala kita adalah film komedi semodel filmnyaWarkop-DKI. Ya, itu memang benar dan pada hari Minggu kemarin saya tidak sengaja mendapatkan kata-kata itu dari sebuah ajang kreativitas remaja “ Close-up Planet” di salah satu TV swasta. Filmnya sangat bergaya remaja, karena yang membuat juga para remaja pemula pecinta sineas ( mungkin masih anak SMA). Kisahnya klise banget yaitu percintaan remaja dan berkaitan ama istilah “tembak-menembak”. Saya sih tidak tertarik sama “tembak-menembaknya” tapi lebih pada ide pokok ceritanya.
Alkisah ada pemuda yang naksir pada seorang gadis, akan tetapi ia mempunyai kelemahan yang sangat mendasar yaitu “ bauket “ (bau ketek) yang teramat ganas dan bisa bikin orang pingsan …. hiii… serem khan. Dan oleh karenanya gadis yang ditaksir tadi berusaha menjauhi walaupun didekati dengan sekuat tenaga.
Akhirnya karena merasa terganggu dengan perjuangan gigih pemuda tersebut, maka diputuskan untuk membicarakannya secara baik-baik di sebuah kafe. Trus terjadilah koalisi semacam kesepakatan kalo si pemuda boleh ndeketin asal tidak membuka tangannya dan menebarkan parfum alaminya. Ndilalah, pada saat yang sama di kafe tersebut terjadilah perampokan dan penodongan. Bisa kebayang khan kalo ditodong disuruh angkat tangan. Si cowok tadi tidak mau mengangkat tangannya karena sesuai kesepakatan tadi tidak diperbolehkan. Tapi dengan kondisi yang darurat maka si pemuda tadi terpaksa mengangkat tangannya dan si pemuda jadi pahlawan , karena si perampok akhirnya jatuh pingsan beserta seluruh pengunjung lainnya !! Cerita pun berakhir dengan happy ending bagi pemuda tadi dengan diterimanya dia sebagai kekasih.
Ada salah satu hikmah yang dapat dipetik dari cerita tadi, yaitu bagaimana menggunakan kelemahan sebagai kekuatan. Barangkali ini juga yang sering dipraktekkan anak kecil, merengek dan menangis saat minta dibelikan sesuatu sama ortunya. Menangis itu kelemahan bagi kita tapi jadi kekuatan bagi anak kecil untuk mendapatkan sesuatu. Biasanya para perempuan juga menggunakan hal yang sama, ups sorry :). Negara Jepang dan beberapa negara lainnya menggunakan kelemahan yang ada di negerinya seperti kecilnya sumber daya alam dan wilayah menjadi sebuah kekuatan dan menumbuhkan motivasi untuk makin maju dan berkembang. Bangsa kita sepertinya perlu belajar demikian. Bangsa ini butuh pahlawan baru untuk memimpin negeri ini untuk maju dan berkembang. Pemilihan presiden yang berlangsung kemarin merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan pemimpin yang jujur dan adil. Semoga siapapun yang terpilih dapat mengemban tugas menjadi pahlawan ini. akan tetapi jangan pahlawan yang bau (ketek) !!!

Friday, September 17, 2004

Semoga menjadi Rohmat selalu ???

Kata itu yang pertama kali terbersit di pikiran saya saat ingin membuat definisi blog ini. Sebenarnya kata-kata ini muncul bukan dari mulut saya sendiri. Ceritanya kata-kata itu muncul saat lulus dari Teknik Kimia ITS tahun 2001 yang lalu. Saya meminta teman-teman akrab saya untuk membubuhkan tanda tangan sekaligus pesan serta kesan tentang profil saya selama kuliah pada halaman akhir skripsi saya ( jadi seperti mengulang masa Orientasi MABA). Dan dari salah satu teman seangkatan saya yang bernama Okke dan Novi ( keduanya sekarang telah menikah : semoga menjadi keluarga sakinah ), saya mendapatkan kata-kata ini : " semoga menjadi rohmat selalu ".

Bagi saya itu merupakan pesan yang paling indah, tanpa memandang maksud dari kata-kata yang mereka tuliskan itu secara eksplisit atau implisit. Ada dua arti di sini yakni mereka berdua ingin saya tetap menjadi "rohmat", yaitu teman mereka kuliah dulu dengan segala karakter yang ada. Adapun kata yang lain merujuk supaya menjadi "rohmat", yang dapat diartikan bermanfaat. Terus terang saya suka kata yang kedua ini, karena saya suka perubahan apalagi ke arah perbaikan (bisa diartikan pindah kerjaan yang baru dan lebih baik :)pokoknya berubah baik dalam segala hal ). Bukankah umur manusia itu bukan berapa lama ia hidup di dunia tetapi bagaimana ia habiskan waktu di dunia untuk melakukan hal yang berguna bagi sesama. Maka ketika kita dapat bermanfaat bagi orang lain atau sesama, maka kita akan tetap hidup dalam kenangan mereka bahkan bila kita sudah tidak ada di dunia lagi.

Walaupun terlambat namun saya bersyukur dapat menemukan kata-kata ini. Dan kata-kata inilah yang sampai sekarang ini menjadi motto hidup saya untuk berbuat dan bertindak baik dalam pekerjaan dan lain-lain serta mendorong saya untuk melangkah maju !!!
Ya Allah, berikanlah kekuatan untuk mewujudkan kata-kata itu sebagai kenyataan bukan sekedar ucapan. Amiin.

Saturday, September 11, 2004

Berbuat Benar

Kebenaran, kita sering mendengar kata-kata itu. Kita mungkin sering berbicara atau juga sering memberikan nasehat dengan dalih atas namanya. Dan apabila kata itu diucapkan maka kata itu begitu pendek dan ringan namun berat bila dilaksanakan.

Kebenaran diharapkan semua orang. Kita mengharapkan kebenaran dari orang lain, begitu pula sebaliknya mereka juga menginginkan hal yang sama dari kita. Bahkan orang jahat sekalipun menginginkan sutu kebenaran, kalaupun mereka berbuat jahat mungkin keadaanlah yang memaksa mereka untuk berbuat jahat. Seorang pencuri akan marah jika rumahnya juga dicuri, demikian pula seorang koruptor pasti akan marah bila anak dan puterinya juga korupsi.

Melaksanakan hal yang benar memang sulit. Kadangkala seperti buah simalakama, apabila kita laksanakan mungkin kita hancur dan sebaliknya bila tidak kita laksanakan maka kita lambat laun juga akan ikut hancur. Akan tetapi orang berusaha berbuat benar maka kedudukannya sangat mulia di hadapan Allah.

Dengan semakin pesatnya teknologi global maka akan ada banyak pengaruh yang dating ke negeri ini. Pengaruh ini ada dua macam, yaitu negatip dan positip. Bagi sebagian orang justru pengaruh negatiplah yang ditiru dan seakan-akan dibuat menjadi kebenaran. Nilai-nilai moral serta kebenaran yang sesungguhnya justru dipinggirkan dengan alas an itu merupakan budaya masa lalu. Inilah yang dilakukan oleh orang yang tak menghargai agama serta identitas dirinya.

Apakah Islam begitu polos terhadap hidup. Jawabannya Tidak. Karena dalam Islam telah dianjurkan untuk belajar ilmu dunia juga sehingga tidak menolak kemajuan teknologi. Akan tetapi teknologi yang dimaksud tentu saja tidak menyebabkan manusia menjadi tidak beradab dan tidak bermoral. Kasus seperti “ Goyang Inul “,“Buruan Cium Gue” telah menjadi suatu contoh nyata betapa kadang nilai agama, moral telah disisihkan.

Akhirnya semoga Allah menjadikan kita sebagai pribadi yang berbuat benar dan jujur.

Friday, September 10, 2004

Berbaik Sangka

Saya pernah bertanya kepada sahabat saya yang telah menikah. Akh, bagaimana Anda tahu istri anda itu memang benar jodoh Anda . Apa yang Anda rasakan setelah sholat istikharoh dan bagaimana anda tahu ciri-cirinya serta yakin itu merupakan keputusan dari Allah yang terbaik. Sahabat saya hanya menjawab bahwa memang setiap keputusan ada konsekuensinya. Jika kita memilih jawaban A misalnya , maka akan ada suatu persoalan lagi setelahnya. Dan keputusan dari Allah belum tentu baik bagi saya ( maksudnya tuh kehidupan setelah menikah itu belum tentu mulus tanpa hambatan seperti jalan tol).
Lama saya memikirkan hal itu dan mungkin baru saya temukan jawabannya beberapa saat yang lalu. Sebagai manusia kita tidak luput dari kebiasaan berprasangka terhadap segala hal yang kita hadapi . Berprasangka baik pada sesuatu akan berkembang jadi perasaan suka pada sesuatu. Begitu pula berprasangka jelek terhadap sesuatu akan menghasilkan perasaan benci pada sesuatu. Sehingga tidak jarang kita menyukai dan membenci sesuatu hanya berdasar perasaan saja tanpa terlebih dulu meneliti hal yg sebenarnya. Begitu pula saat kita berhubungan dengan Allah, mungkin di antara kita sering berprasangka kepada-Nya. Mungkin karena hanya mengalami kegagalan atas sesuatu, kita langsung memvonis Alloh tidak adil dan tidak penyayang ataupun vonis-vonis lainnya.
Ketika kita gagal dalam sesuatu Allah mengingatkan “ Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal sesuatu itu baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu padahal sesuatu itu burukbagi kalian. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui “ ( QS 2 : 116 ).
Sebagai bukti kita cinta Allah maka dalam menghadapi kegagalan, kita harus berprasangka baik padaNya, mungkin kegagalan atas apa yg kita hadapi sebenarnya berakibat lebih baik bagi kita. Mungkin bila kita sukses justru pada akhirnya kehidupan kita akan menjadi lebih jelek selanjutnya. Keputusan Allah lah yang terbaik karena Dia lah yang Maha Mengetahui, sedang kita tidak mengetahui. Dan pada akhirnya sebagai orang yang beriman kita benar-benar yakin bahwa hanya Allah lah Dat yang maha Adil dan maha Penyayang.

Sebuah Kabar Duka

Telah datang kepadaku sebuah berita
ibuku kembali berduka
karena buminya diporak poranda
sekelompok orang keji yang mengaku manusia

Mereka menabur bom dan menebar derita
kepada siapa saja
mereka tak menghormati nyawa
tak kenal ras, agama serta usia

Mungkin mereka bala tentara Yajuj dan Majuj
yang telah dibangkitkan lagi
mungkin juga mereka bala tentara Dajjal
yang kejam dan tak punya perasaan

Mereka hidup tapi tanpa hati
mereka bertelinga namun tuli
yang ada di di wajah dan tangannya
hanya teror dan benci

Jika kalian berteriak lantang bahwa itu demi kebenaran
Maka aku akan berada pada barisan terdepan untuk menentang
Karena aku yakin tidak ada kebenaran
Yang merampas kemerdekaan orang untuk tetap hidup

Hingga sampai hari ini bersama sumpah serapahku
Lenyaplah kalian dari bangsaku !!!!

NB : kepada para korban bom Kuningan : kami semua ikut berduka cita

Tuesday, September 07, 2004

Terlahir Lagi

Alhamdulillah. Akhirnya kesampean juga punya blog sendiri. Karena terlalu banyak lihat blog milik para blogger sehingga jadi agak ngiri sedikit, tapi khan gak papa demi kebaikan. Akan tetapi ibarat bayi yang baru lahir, maka blog ini pun masih begitu polos dan belum berwarna dan terwarnai. Semoga ia seperti bayi juga yang mengalami tahapan pertumbuhan yaitu merangkak, berdiri dan mulai berjalan selanjutnya berlari !! Semoga blog ini dapat memberikan manfaat